Lorem.Ipsum.Esent

A un Angleso it va semblar un simplificat Angles, quam un skeptic Cambridge amico dit me que Occidental es. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt?
Tampilkan postingan dengan label Rumus Kecantikan Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumus Kecantikan Wanita. Tampilkan semua postingan

Aida: “Aku mau sekolah terus, tidak mau bekerja”

Minggu, 04 Desember 2011


  
“Setelah selesai magister manajemen saya berencana kuliah lagi, jurusan tata boga, terus saya akan kuliah lagi jurusan apa” belum selesai  mengucapkan jurusan apa. Selanjutnya Pak Yazid tampak terkejut,  “Aida kamu masak mau sekolah terus, kapan kamu mau kerja”, sergah pak Yazid dengan penuh penasaran.

Tulisan Ummu Mumtaz (ibu rumah tangga, tinggal di Yogyakarta),- dimuat di ‘Fahma’ Vol 6 No.08 Agustus 2009, hal 16-17-  ini, banyak yang dapat kita ambil faedahnya, insya Allah.  Apa saja faedah yang bisa kita dapatkan?  Silakan temukan sendiri faedah-faedah yang berserak…. selamat mencari.

Aida setiap hari kesepian di rumah, pasalnya bapak dan ibu Aida selalu pulang sore. Aida anak tunggal, kebetulan tetangga dekat tidak mempunyai anak seusia Aida. Sepulang sekolah biasanya Aida menggunakan waktunya untuk mengulang pelajaran sekolah dan jika sudah capek beralih nonton televisi. Begitulah rutinitas Aida sehari-hari.

Ibu Aida biasanya pulang kerja pukul 16.00 WIB,  sedangkan bapak Aida pulang kerja selepas Maghrib.  Oleh-oleh kedua orangtua Aida selalu tak kelupaan buat Aida.  Kadang Aida sendiri yang pesan makanan kesukaanya, bakso.

Karena bekerja seharian ibu Dina orangtua Aida tampak capek sesampai di rumah, ibu Dina seorang manager perusahaan kertas FT Satria Makmur.  Perusahaan di mana ibu Dina menjadi manager, memiliki karyawan 10.000 orang.  Lain halnya dengan pak Yazid,  orang tua Aida ini pengawas mekanik perusahaan tekstil PT Sritex Jaya.  Karena jarak tempuh yang lebih jauh jika di banding tempat kerja ibu Dina, maka pak Yazid harus berangkat lebih dulu dan pulang belakangan.

Hari-hari Aida ditemani oleh seorang pembantu bagian dapur dan seorang pegawai taman.  Perasaan jenuh kerap menimpa Aida ketika menunggu kedua orang tua pulang kerja.  Rumah besar yang dilengkapi berbagai perabot mewah selalu sepi, kecuali sekali waktu ada teman-teman ibu Dina arisan.

Aida perlahan tapi pasti beranjak remaja.  Sekarang kelas dua SMP.  Kisah Aida yang begitu mencengangkan bermula dari kelas dua SMP.

Setiap pulang kerja ibu Aida selain tampak capek juga mengeluh tentang persoalan di tempat kerja. Ibu Aida tak menyadari ekspresi wajah dan keluhan persoalan kerjanya direkam oleh putrinya,  belum selesai ibunya
bercerita,  Aida kedatangan bapaknya pulang kerja.   Cerita serupa meluncur dari pak Yazid ayah Aida.  “Hari ini sial betul saya, lima mesin macet total secara mendadak,  saya kena teguran keras pimpinan“, sambil meletakkan tas di atas meja, pak Yazid melanjutkan keluhannya.

Aida tertegun memandangi kedua orangtuanya, ia tidak mendapati tegur sapa kedua orang tuanya.  Tanpa disadari Aida terbersit pikiran negatif tentang dunia kerja.  “Wah besok aku tidak mau kerja,  kerja itu capek,  ruwet dan tidak menyenangkan,  aku akan sekolah terus saja“, pikir Aida sambil melamun.

Aida lulus SMP,  orang tua Aida menawari untuk memilih sekolah yang disukai Aida.   Kedua orang tua Aida tampak senang karena nilai UAN Aida bagus.   Aida memilih sekolah berkelas internasional, yang waktu sekolahnya lebih panjang.   Alasan Aida memilih sekolah internasional agar bisa lama di sekolah, berangkat jam 06.00 WIB hingga jam 18.00 WIB. Karena di rumah sepi.

Prestasi akademik Aida luar biasa, setiap hari bisa memberikan kebanggaan buat orangtua.  Perjalanan Aida di SMA cukup gemilang hingga kelas 3.   Aida merasa enjoy di sekolah, karena banyak teman-temannya yang baik dan fasilitas sekolah lengkap.

Waktu ujian akhirpun tiba, Aida telah siap dengan segalanya. Pak Yazid kaget ketika membaca koran, kalau pekan depan sudah tiba saatnya ujian.  Maklum selama ini tidak sempat menanyakan kesiapan ujian pada anaknya.  “Aida, besok Senin kamu ujian kan, sudahkah kamu siap untuk ujian nak…?” teriak Yazid kepada putrinya, Aida.   Aida yang ada di dalam kamar spontan menjawab, “Sudah“.

Usai ujian,  Aida cukup gembira,  nilai sembilan tiap mata pelajaran diraihnya dengan mudah.  “Saya harus mendapatkan nilai bagus agar saya bisa kuliah, saya tidak mau kerja“,  gumam Aida.   Masuklah Aida kejurusan ekonomi kelas internasionnal.   Kedua orangtua Aida amat gembira dengan keberhasilan anaknya, Aida.

Seiring dengan karir yang meningkat ibu Dina semakin sibuk, keluhan capek dan keruwetan di kantor semakin nyaring di telinga Aida.   Aida semakin “alergi” dengan kerja.   Gelar sarjana begitu cepat diraih Aida,  prestasi akademik diraih dengan gemilang, IPK 3,9 indikatornya.

Kedua orangtua Aida ternyata sempat memperbincangkan lapangan kerja buat satu-satunya buah hati mereka.  Saling tarik-menarik antara pak Yazid dan Ibu Dina terjadi.  Pak Yazid menghendaki Aida masuk dan berkarir di tempatnya kerja PT Tekstil Sritex Jaya,   ibu Dina juga menghendaki Aida bekerja di tempat ia bekerja,  pabrik kertas PT Satria Makmur.   Deadlock pun terjadi.   Akhirnya mereka sepakat menyerahkan pilihan kerja pada yang bersangkutan, Aida.

Selepas makan malam Bu Dina menyempatkan mengajak bicara Aida, pekerjaan apa yang akan ia kehendaki setelah lulus sarjana ekonomi.   “Aida, ibu sangat ingin kamu bekerja bersama ibu, gajinya bisa besar“, kata ibu.   Pak Yazid pun menimpali,  “Aida, kebetulan di tempat bapak kerja membutuhkan tenaga baru, kamu bisa masuk“.   Tak sepatah katapun keluar di mulut Aida. Kedua orang tuanya, menunggu pilihan kerja di mana yang dikehendaki Aida.

“Ibu,  bapak,  saya akan sekolah lagi,  saya tidak mau kerja.   Saya akan mengambil program studi magister manajemen“,  kata Aida.   Kedua orangtua tampak senang walaupun keinginan Aida untuk mengikuti jejak kerjanya tidak terkabul.   Keadaan mendadak berubah menjadi tegang ketika Aida melanjutkan bicaranya.

“Setelah selesai magister manajemen saya berencana kuliah lagi,  jurusan tata boga,  terus saya akan kuliah lagi jurusan apa…” belum selesai mengucapkan jurusan apa.   Selanjutnya Pak Yazid tampak terkejut.   “Aida kamu masak mau sekolah terus, kapan kamu mau kerja“, sergah pak Yazid dengan penuh penasaran.

“Aku tidak mau kerja, aku mau sekolah terus, kerja itu capek banyak persoalan dan tidak enak“, lanjut Aida.

Kedua orangtua Aida nampak berpandangan, terbersit saling menyalahkan antara keduanya.

Anak, perhiasan sekaligus ujian


 Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:

ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ

“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia “(QS. Al-Kahfi:46)
Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka.

Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian).

Dan Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:
إِنَّمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَأَوۡلَـٰدُكُمۡ فِتۡنَةٌ۬‌ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُ ۥۤ أَجۡرٌ عَظِيمٌ۬

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghaabun:15)

Jangan kita terpedaya!
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allooh Subhannahu Ta’ala. Ia menjadi angkuh dan berbangga diri karena anaknya, merasa paling tinggi dari orang lain. Ia sombong dan takabbur, bahkan merendahkan orang lain dan berlaku aniaya. Maka hal itu hanya mengantarkannya ke neraka.
Simak firman Allooh Subhannahu Ta’ala berikut ini:

(وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِى قَرۡيَةٍ۬ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ (٣٤

(وَقَالُواْ نَحۡنُ أَڪۡثَرُ أَمۡوَٲلاً۬ وَأَوۡلَـٰدً۬ا وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ (٣٥

(قُلۡ إِنَّ رَبِّى يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (٣٦

وَمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُكُم بِٱلَّتِى تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ

(لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِى ٱلۡغُرُفَـٰتِ ءَامِنُونَ (٣٧


Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:”Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.

Dan mereka berkata:”Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan di azab”.

Katakanlah:”Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah itu yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam jannah). (QS. Saba’: 34-37)

Anak, kerap kali mendorong ayah untuk meghalalkan usaha yang haram. Demi masa depan anak katanya…
Ia pun berusaha keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dengan segala cara, sekalipun ia harus mendzhalimi yang lemah, memusuhi manusia atau memutus tali silaturrahim.


Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang kepadanya seraya berkata,”Anakmu tadi minta ini dan itu! Maka demi anaknya, ia pun urung menginfakkan hartanya di jalan Allooh Subhannahu Ta’ala. Padahal yang diminta oleh anaknya itu bukanlah suatu kebutuhan primer.


Benarlah sabda Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam:
“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut, jahil dan bersedih.” (HR. Al-Hakim (5284) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’(1990))


Ketika ia harus mengatakan kalimat yang hak, ia berfikir dua kali. Ia takut petaka akan menimpa dirinya dan anak kesayangannya. Ia pun memilih diam daripada menyampaikan kebenaran.

Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh, melanggar syari’at agama dengan ucapan maupun perbuatannya, mengugat takdir Allooh dan tidak menerima ketetapan-Nya. Ia pun membawa anaknya ke dukun padahal Nabi melarang pebuatannya itu.


Yang parah lagi, ada pula anak yang mendorong orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, Wallaahul musta’an.


Perhatikanlah orang yang tertipu disebabkan anak-anaknya dan tidak mensyukuri nikmat Allooh ini! Ia adalah seorang kafir Makkah bernama Khalid bin Mughirah. Allooh Subhannahu Ta’ala berkata tentangnya:
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.

Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak,

dan anak-anak yang selalu bersama dia,

dan Ku-lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,

kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya.

Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur’an).

Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. (QS. Al-Muddatstsir: 11-17)
Dia adalah lelaki yang dikarunia anak-anak dan Allooh menjadikan ia selalu bersama mereka untuk mengais rizki. Bahkan rizki lah yang mengelilinginya. Dan anak-anaknya senantiasa berada di sisi nya menjadi hiburan baginya. Walau demikian, ia tidak mensyukuri nikmat Allooh, bahkan dibalasnya dengan kekufuran.
Akibatnya, Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:

Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.

Tahukah kamu apa (naar) Saqar itu

Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.

(Naar Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS. Al-Muddatstsir: 26-29)


Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari fitnah (godaan) ini?
Jadikanlah cinta pertama kita untuk Allooh Subhannahu Ta’ala. Jadikan manusia yang paling kita cintai adalah Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allooh dalam mengurus mereka.


Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam mengajarkan bahwa di antara yang dapat menghapuskan keburukan akibat godaan anak adalah mengerjakan sholat, puasa, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar. Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam bersabda:
“Gangguan menimpa seseorang disebabkan keluarga, harta, anak, diri dan tetangganya dapat dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Walloohu a’lam bish showab.


*Ditulis ulang oleh Ummu Tsaqiif al-Atsariyyah dari buku “Mencetak Generasi Robbani, Pustaka Darul Ilmi untuk jilbab.or.id*

sumber : http://jilbab.or.id/archives/979-anak-perhiasan-sekaligus-ujian/

Rumus Kecantikan Wanita


 Tidak cantik = Minder dan jarang disukai orang.
Cantik = Percaya diri, terkenal dan banyak yang suka.
AH MASA SIH??

Itulah sekelumit rumus yang ada dalam fikiran wanita atau bisa juga akhwat. Sebuah rumus simple namun amat berbahaya. Darimanakah asal muasal rumus ini? Bisa jadi dari media ataupun oleh opini masyarakat yang juga telah teracuni oleh media- baik cetak maupun elektronik- bahwa kecantikan hanya sebatas kulit luar saja. Semua warga Indonesia seolah satu kata bahwa yang cantik adalah yang berkulit putih, tinggi semampai, hidung mancung, bibir merah, mata jeli, langsing, dll. Akibatnya banyak kaum hawa yang ingin memiliki image cantik seperti yang digambarkan khalayak ramai, mereka tergoda untuk membeli kosmetika yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka dan mulai melalaikan koridor syari’at yang telah mengatur batasan-batasan untuk tampil cantik. Ada yang harap-harap cemas mengoleskan pemutih kulit, pelurus rambut, mencukur alis, mengeriting bulu mata, mengecat rambut sampai pada usaha memancungkan hidung melalui serangkaian treatment silikon, dll. Singkat kata, mereka ingin tampil secantik model sampul, bintang iklan ataupun teman pengajian yang qadarullah tampilannya memikat hati. Maka tidak heran setiap saya melewati toko kosmetik terbesar di kota saya, toko tersebut tak pernah sepi oleh riuh rendah kaum hawa yang memilah milih kosmetik dalam deretan etalase dan mematut di depan kaca sambil terus mendengarkan rayuan manis dari si mba SPG.
Kata cantik telah direduksi sedemikian rupa oleh media, sehingga banyak yang melalaikan hakikat cantik yang sesungguhnya. Mereka sibuk memoles kulit luar tanpa peduli pada hati mereka yang kian gersang. Tujuannya? Jelas, untuk menambah deretan fans dan agar kelak bisa lebih mudah mencari pasangan hidup, alangkah naifnya. Faktanya, banyak dari teman-teman pengajian saya yang sukses menikah bukanlah termasuk wanita yang cantik ataupun banyak kasus yang muncul di media massa bahwa si cantik ini dan itu perkawinannya kandas di tengah jalan. Jadi, tidak ada korelasi antara cantik dan kesuksesan hidup!.

Teman-teman saya yang sukses menikah walaupun tidak cantik-cantik amat tapi kepribadiannya amat menyenangkan, mereka tidak terlalu fokus pada rehab kulit luar tapi mereka lebih peduli pada recovery iman yang berkelanjutan sehingga tampak dalam sikap dan prinsip hidup mereka, kokoh tidak rapuh. Pun, jika ada teman yang berwajah elok mereka malah menutupinya dengan cadar supaya kecantikannya tidak menjadi fitnah bagi kaum adam dan hanya dipersembahkan untuk sang suami saja, SubhanAlloh. Satu kata yang terus bergema dalam hidup mereka yakni bersyukur pada apa-apa yang telah Alloh berikan tanpa menuntut lagi, ridho dengan bentuk tubuh dan lekuk wajah yang dianugerahkan Alloh karena inilah bentuk terbaik menurut-Nya, bukan menurut media ataupun pikiran dangkal kita. Kalau kita boleh memilih, punya wajah dan kepribadian yang cantik itu lebih enak tapi tidak semua orang dianugerahi hal semacam itu, itulah ke maha adilan Alloh, ada kelebihan dan kekurangan pada diri tiap orang. Dan satu hal yang pasti, semua orang bertingkah laku sesuai pemahaman mereka, jika kita rajin menuntut ilmu agama InsyaAlloh gerak-gerik kita sesuai dengan ilmu yang kita miliki. Demikian pula yang terjadi pada wanita-wanita yang terpaku pada kecantikan fisik semata, menurut asumsi saya, mereka merupakan korban-korban iklan dan kurang tekun menuntut ilmu agama, sehingga lahirlah wanita-wanita yang berpikiran dangkal, mudah tergoda dan menggoda. Mengutip salah satu hadist, Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

    “Siapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, Alloh akan pahamkan ia dalam agamanya”(Shahih, Muttafaqun ‘alaihi).

Hadist diatas dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz bahwa ia menunjukkan keutamaan ilmu. Jika Alloh menginginkan seorang hamba memperoleh kebaikan, Alloh akan memahamkan agama-Nya hingga ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang bathil, mana petunjuk mana kesesatan. Dengannya pula ia dapat mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-sifat-Nya serta tahu keagungan hak-Nya. Ia pun akan tahu akhir yang akan diperoleh para wali Alloh dan para musuh Alloh.

Syaikh Ibnu Baz lebih lanjut juga mengingatkan betapa urgennya menuntut ilmu syari’at:

    “Adapun ilmu syar’i, haruslah dituntut oleh setiap orang (fardhu ‘ain), karena Alloh menciptakan jin dan manusia untuk beribadah dan bertaqwa kepada-Nya. Sementara tidak ada jalan untuk beribadah dan bertaqwa kecuali dengan ilmu syar’i, ilmu Al-Qur’an dan as Sunnah”.

Dus, sadari sejak semula bahwa Alloh menciptakan kita tidak dengan sia-sia. Kita dituntut untuk terus menerus beribadah kepadaNya. Ilmu agama yang harus kita gali adalah ilmu yang Ittibaurrasul (mencontoh Rasulullah) sesuai pemahaman generasi terbaik yang terdahulu (salafusshalih), itu adalah tugas pokok dan wajib. Jika kita berilmu niscaya kita akan mengetahui bahwa mencukur alis (an-namishah), tatto (al-wasyimah), mengikir gigi (al-mutafallijah) ataupun trend zaman sekarang seperti menyambung rambut asli dengan rambut palsu (al-washilah) adalah haram karena perbuatan-perbuatan tersebut termasuk merubah ciptaan Alloh. Aturan-aturan syari’at adalah seperangkat aturan yang lengkap dan universal, sehingga keinginan untuk mempercantik diri seyogyanya dengan tetap berpedoman pada kaidah-kaidah syara’ sehingga kecantikan kita tidak mendatangkan petaka dan dimurkai Alloh. Apalah gunanya cantik tapi hati tidak tentram atau cantik tapi dilaknat oleh Alloh dan rasul-Nya, toh kecantikan fisik tidak akan bertahan lama, ia semu saja. Ada yang lebih indah dihadapan Alloh, Rabb semesta alam, yaitu kecantikan hati yang nantinya akan berdampak pada mulianya akhlaq dan berbalaskan surga. Banyak-banyaklah introspeksi diri (muhasabah), kenali apa-apa yang masih kurang dan lekas dibenahi. Jangan ikuti langkah-langkah syaitan dengan melalaikan kita pada tugas utama karena memoles kulit luar bukanlah hal yang gratis, ia butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bukankah menghambur-hamburkan uang (boros) adalah teman syaitan?. JADI, mari kita ubah sedikit demi sedikit mengenai paradigma kecantikan.

Faham Syari’at = CANTIK
Tidak Faham Syari’at = Tidak CANTIK sama sekali!
Bagaimana? setuju?.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wa sallam bersabda:
”Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila shuwarikum walakin yanzhuru ila qulubikum”
”Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati dan kalian” (HR. Muslim)

Mari kita simak syair indah dibawah ini:

    Banyak lebah mendatangi bunga yang kurang harum
    Karena banyaknya madu yang dimiliki bunga
    Tidak sedikit lebah meninggalkan bunga yang harum karena sedikitnya madu

    Banyak laki-laki tampan yang tertarik dan terpesona oleh wanita yang kurang cantik
    Karena memiliki hati yang cantik
    Dan tidak sedikit pula wanita cantik ditinggalkan laki-laki karena jelek hatinya

    Karena kecantikan yang sejati bukanlah cantiknya wajah tapi apa yang ada didalam dada
    Maka percantiklah hatimu agar dicintai dan dirindukan semua orang.

Wallahu ‘alam bisshowab (ummu Zahwa).
Maroji’:
297 Larangan Dalam Islam dan Fatwa-Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Aal ath-Thahthawi.

sumber: http://jilbab.or.id/archives/484-rumus-kecantikan-wanita/